December 15th, 2010

pentingnya menghargai perbedaan

FABEL : “The Animal School” by Dr.R.H.Reeves

Alkisah, binatang-binatang memutuskan bahwa mereka harus berbuat sesuatu yg heroik untuk mengatasi masalah “Dunia Baru”. Mereka pun mendirikan sekolah-sekolah. Mereka menggunakan sebuah kurikulum kegiatan yg terdiri atas berlari, memanjat, berenang dan terbang. Untuk memudahkan administrasi, semua binatang mengambil semua mata pelajaran.

Bebek ahli sekali dalam berenang, lebih baik sebenarnya dibanding gurunya, dan memperoleh hasil yg bagus sekali dalam pelajaran terbang, tetapi ia sangat buruk dalam berlari. Karena ia lambat dalam berlari ia harus tinggal sesudah sekolah usai dan juga melepaskan pelajaran renang untuk berlatih lari. Ini diteruskan hingga kakinya yg berselaput pecah-pecah dan kemampuan renangnya menjadi sedang-sedang saja. Tetapi kemampuan yg sedang-sedang saja dapat diterima di sekolah, jadi tak seorangpun khawatir soal itu selain si bebek.

Kelinci memulai sebagai murid terpandai di kelas dalam pelajaran berlari, tetapi mengalami gangguan mental karena harus belajar berenang.

Tupai ahli sekali dalam memanjat sebelum ia frustasi dalam pelajaran terbang karena gurunya menyuruhnya memulai dari tanah ke atas dan bukan dari puncak pohon ke bawah. Ia juga menderita kejang-kejang pada kaki dan tangannya karena latihan yang berkebihan dan ia mendapat C untuk memanjat dan D untuk berlari.

Elang adalah anak yg suka menimbulkan masalah dan harus didisiplin dengan keras. Dalam pelajaran memanjat ia mengalahkan semua yg lain menuju puncak pohon, tetapi ia bersikeras menggunakan caranya sendiri untuk tiba disana.

Pada akhir tahun ajaran, seekor belut abnormal yg dapat berenang dengan luar biasa dan juga dapat berlari, memanjat dan terbang sedikit mendapat nilai rata-rata tertinggi dan mengucapkan pidaro perisahan.

Anjing padang rumput tidak diterima di sekolah dan menentang pungutan pajak karena tata usaha sekolah tidak mau menambahkan pelajaran menggali dan bersembunyi pada kurikulum. Mereka menitipkan anak-anak mereka pada luak dan belakangan bergabung dengan tikus tanah dan marmut tanah untuk memulai sekolah swasta yg berhasil.

(from : 7 habits book by Stephen Covey)